Showing posts with label tausiyah. Show all posts
Showing posts with label tausiyah. Show all posts

Friday, May 27, 2016

Tetaplah Bekerja dengan Baik Meski Gajimu Kecil

Tetaplah Bekerja dengan Baik Meski Gajimu Kecil
Tetaplah Bekerja dengan Baik Meski Gajimu Kecil

Nggak jarang nih kita dengar cerita atau mengalami sendiri, orang yang bekerja siang-malam membanting tulang, lembur lewat waktu bahkan lewat hari kerja, tapi ternyata gaji segitu-gitu aja. Boro-boro nyampe UMR, bisa cukup sebulan aja udah bersyukur banget.

Tapi, Sob, stop complaining, nggak perlu banyak mengeluh lagi, karena mengeluh cuma bikin capek hati dan pikiran.

"Gue kerja semau gue aja lah, toh ternyata gaji nggak sebanding sama apa yang udah gue lakuin!"

Eits, pikiran kayak gitu juga nggak solutif loh, Sob. Gimana kalau ternyata yang kamu lakukan itu malah bikin perusahaan tempatmu bekerja kolaps dan akhirnya kamu kehilangan pekerjaan? Nggak mau itu terjadi kan?

Mengutip sebuah artikel, bagaimana karir kita, cara kita menghargai waktu, cara kita berusaha bekerja memberikan 15 ketika hanya diminta 10, cara kita menjadi anggota tim yang baik, cara kita menjadi orang yang bisa diandalkan, cara kita memberikan solusi dengan inisiatif sendiri, cara kita peduli pada hasil pekerjaan kita, nggak pernah tergantung pada atasan or bos atau perusahaan tempat kita bekerja.

Ketika kita bekerja, kita sedang membangun karir kita sendiri.

Nggak bermaksud bikin kamu jadi orang yang egosentris, Sob. Tapi, kalau kita bekerja dengan baik atau bahkan sangat baik, maka value alias nilai dalam diri kita akan bertambah.

Seharusnya, bos yang baik dan cerdas akan memperhatikan ini dan jadi mikir gimana cara ngasih reward yang baik ke kamu. Baik berupa promosi naik jabatan, gaji, fasilitas, de el el.

Tapi, kalau yang terjadi sebaliknya, bos kamu nggak bisa melihat kerja keras atau hasil kerjamu yang sudah exceed expectations bahkan outstanding, yang akan terjadi adalah?
Kamu keluar untuk mencari pekerjaan lain atau usaha sendiri, atau

ada bos lain yang lebih cerdas di luar sana yang melihat potensimu dan ingin kamu bekerja padanya. Who knows?

Kalau kamu memang benar-benar seorang pekerja yang baik, insya Allah pekerjaan nggak akan kemana kok, Sob. Perusahaan atau bos-bos di dunia ini bakal berebutan nge-hire kamu.

So, bekerjalah dengan sebaik-baiknya, sekeren-kerennya, nggak perlu terlalu diambil pusing soal gaji atau bos kamu. Karena usahamu itu insya Allah akan berakhir baik.

Jangan banyak mengeluh tentang gaji kalau ternyata kerja kita nggak terlalu oke, Sob. Maka, penting untuk bertanya ke rekan kerja atau membandingkan kualitas pekerjaan kamu dengan teman satu profesi, minta saran ke bos yang 'benar', atau ke sahabat dekat yang gampang ngomong blak-blakan. Supaya kita bisa mengeveluasi diri.

Allah swt berfirman, "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al Mulk (97): 2). Allah swt memerintahkan kita untuk bekerja dengan baik, bekerja dengan amanah, mengemban tugas dengan semaksimal mungkin.

Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan." (HR Thabrani). Itqan artinya kesungguhan dan kemantapan dalam melaksanakan tugas. Jadi, kalau bekerja secara maksimal, nggak asal-asalan, bekerja sampai pekerjaan tersebut tuntas dan selesai dengan baik. Nggak cuma bekerja literally ngerjain job desk kita sehari-hari di kantor atau tempat usaha aja, Sob, tapi juga ketika beramal dan beribadah.

Bekerja dan beramal dengan baik harusnya menjadi ruh bagi seorang muslim, karena bekerja nggak cuma untuk bos aja, Sob, tapi bekerja juga bagian dari ibadah kepada Allah swt.

Kalau memang sampai saat ini kamu merasa belum mendapatkan gaji yang sesuai, cobalah bersabar, mungkin Allah swt sedang menguji supaya kita bisa selalu bersyukur dengan berapapun gaji yang kita dapatkan. Atau Allah swt Maha Tahu, bisa jadi kalau kita dikasih gaji yang selangit, eh, kita malah lalai dengan kewajiban ibadah kita pada Allah swt.

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105).

Keep semangat, Sob!

Saturday, May 7, 2016

Anjuran sholat berjamaah untuk pria

http://sbi-yosh.blogspot.co.id/


SBI_News.com.Kawan, sudah sering denger kan, jangan sampai melewatkan shalat berjamaah, karena selisih pahala yang lebih banyak 27 derajat. Apakah hanya soal selisih pahala aja? Atau ada keberkahan lain yang bisa kita jemput dengan melaksanakan shalat berjamaah?

Mengenai hukum shalat berjamaah ada yang mengatakan bahwa shalat jamaah 5 waktu hukumnya fardhu 'ain, ada pula yang mengatakan fardhu kifayah, dan ada yang mengatakan sunnah mu'akkad. Kesimpulan dari hukum-hukum tersebut, shalat berjamaah 5 waktu hukumnya wajib, fardhu 'ain bagi laki-laki. 

Sedangkan bagi perempuan, tidak diwajibkan berdasarkan ijma' (kesepakatan) para ulama. (Shahih Fiqh Sunnah, 1/508).

Kenapa para pria sebaiknya nggak ketinggalan shalat berjamaah?

1. Mendapat pahala dan do'a malaikat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).

Wow, berjalan menuju masjid dan menunggu shalat berjamaah dimulai saja sudah berpahala loh!

2. Mendapat ampunan dosa
Dari ‘Utsman bin ‘Affan, beliau berkata bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia berjalan untuk menunaikan shalat wajib yaitu dia melaksanakan shalat bersama manusia atau bersama jama’ah atau melaksanakan shalat di masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim).



Baca juga: Inilah Alasan Penting Harus Merapatkan Shaf Saat Shalat Berjamaah



3. Akan dikuasai setan bila tidak berjamaah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya serigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” (HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi)

Saking pentingnya shalat berjamaah bagi para pria, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampai memberikan ancaman yang dahsyat. 

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651).

Bahkan sahabat menganggap bahwa pria yang nggak shalat berjamaah sama dengan orang munafik!

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu dia berkata, "Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan di shaff (barisan) shalat yang ada.” (HR. Muslim no. 654).

Nah, gimana, Sob? Yang ngaku sholeh, biar tambah pol sholehnya, makin rajin shalat jamaah di masjid dong. Biar ramai juga mushola dan masjid yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Allahu a'lam.

Sunday, May 1, 2016

kawan,catat hutangmu.!

http://sbi-yosh.blogspot.co.id/


Sbi_yosh.com.pembaca berita yosh, persoalan hutang bukan persoalan yang main-main loh. Ketika seseorang meninggal dunia, urusan hutang ini bisa berbuntut panjang. Maka, kadang ada yang menganggap bahwa mencatat hutang adalah sesuatu yang harus dilakukan. Benarkah?


Wah,repot dong kalau cuma mau pinjem buat bayar ojek di depan kampus lima ribu perak kudu dicatat juga? Jadi penuh dong note booknya. Simak ulasan yosh berikut ini, kawan.

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang yang belum dilunasi, maka membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itu yang terjadi di hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang yang dipunyai seseorang.

Wah, gawat banget dong kalau ternyata pahala kebaikan kita nggak banyak-banyak amat.

Bukan berarti kita jadi nggak boleh berhutang juga loh, kawan. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun terkadang berhutang dan orang yang hendak berhutang hukumnya mubah. Tetapi, kita kudu bersikap hati-hati terhadap apa yang namanya hutang!

Soal mencatat hutang Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari hutangnya." (QS. Al-Baqarah: 282).

Akan tetapi, ulama berbeda pendapat mengenai hukum wajib atau tidaknya mencatat hutang ini, kawan.

Madzhab Dzahiriyah berpendapat bahwa ayat tersebut menjadi dalil wajibnya menulis transaksi hutang piutang yang pelunasannya tertunda.

Ibnu Hazm adz-Dzahiri mengatakan, "Jika hutang ditangguhkan pelunasannya, maka wajib bagi keduanya untuk menuliskannya dan mencari saksi dua orang atau lebih atau seorang lelaki dengan dua wanita yang adil, atau lebih. Jika dia dalam safar, dan tidak menemukan orang yang mencatat, jika mau, orang yang berhutang bisa menggadaikan sesuatu." (al-Muhalla, 6/351)

Mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali, berpendapat bahwa mencatat transaksi hutang dan menghadirkan saksi ketika transaksi, hukumnya tidak wajib.

Perintah dalam QS. Al Baqarah ayat 282 adalah bimbingan agar manusia lebih berhati-hati dan lebih yakin dalam melakukan muamalah dengan orang lain, terutama masalah hutang. Sehingga statusnya bukan perintah yang wajib dikerjakan.

Imam as-Syafii menjelaskan dengan bagus mengenai tafsir ayat tersebut. Beliau menyebutkan, ada dua alasan, mengapa perintah dalam ayat tersebut bukan perintah wajib.

Di ayat berikutnya (283), Allah SWT perintahkan ketika seseorang tidak menemukan penulis, agar menggadaikan barangnya.

Di lanjutan ayat, Allah bolehkan untuk tidak menggadaikan barang, selama masing-masing yakin bisa saling menjaga amanah.

Ini menunjukkan bahwa perintah di ayat sebelumnya, memberi kesimpulan anjuran dan bukan kewajiban yang ketika ditinggalkan, bernilai maksiat. (Ahkam al-Quran, 2/127).

Ada pula ulama yang berpendapat bahwa bila harta yang dihutangkan adalah milik sendiri maka yang afdhal (sunnah) adalah mencatatnya.

Boleh aja nggak mencatat hutang, kawan, apalagi kalau hutang tersebut dalam hal-hal kecil atau secara adat-kebiasaan orang-orang tidak terlalu serius di dalamnya.

Kalau harta yang dihutangkan milik orang lain, misalnya karena mengelola harta anak yatim dan karena suatu hal yang membawa maslahah ia menghutangkannya kepada orang lain, maka ia wajib mencatatnya.

Mengelola harta anak yatim adalah bentuk penjagaan terhadap harta mereka. Seperti firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (QS. Al An’am: 154).

Imam as-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan, "Perintah untuk mencatat setiap akad hutang piutang, bisa hukumnya wajib, dan bisa anjuran. Mengingat besarnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan kesalahan, lupa, peselisihan, dan pertikaian, yang itu kejelekan yang besar." (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 118).

So, hukum asal mencatat transaksi hutang sifatnya adalah anjuran. Tapi, kalau dipastikan akan menimbulkan sengketa atau pertikaian tanpa pencatatan, maka mencatat transaksi hutang atau menghadirkan saksi hukumnya menjadi wajib.

Allahu a'lam.

Jangan takut dengan masalah

http://sbi-yosh.blogspot.co.id/


Sbi_yosh.com.kawan..!, manusia nggak pernah lepas dari masalah. Masalah apapun dari masalah yang kecil sampai masalah yang besar. Pun ketika udah merasa beres dari satu masalah, yakin deh, akan muncul masalah berikutnya. Bukannya menakut-nakuti,tapi, kalau kita mau berpikir positif, dengan masalah kita bisa menjadi dewasa, dengan masalah iman kita bisa teruji, akan semakin naik atau malah turun. Tetapi, jangan sampai turun deh ya.

Masalah sebenarnya nggak perlu dijadikan masalah kok. Maksudnya,? Coba deh simak kisah menarik berikut ini.

Seorang lelaki yang sedang dirundung kesedihan datang menemui Imam Ali bin Abi Tholib, ia pun berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku datang kepadamu karena aku sudah tidak mampu lagi menahan beban kesedihanku.”

Imam menjawab, “Aku akan bertanya dua pertanyaan dan jawablah!”

Lelaki itu berkata, “Ya, tanyakanlah!”

“Apakah engkau datang ke dunia bersama dengan masalah-masalah ini?” kata Imam.

“Tentu tidak.” jawabnya.

“Lalu apakah kau akan meninggalkan dunia dengan membawa masalah-masalah ini?” tanya Imam.

“Tidak juga.” jawabnya.

Lalu Imam berkata, “Lalu mengapa kau harus bersedih atas apa yang tidak kau bawa saat datang dan tidak mengikutimu saat kau pergi?”

“Seharusnya hal ini tidak membuatmu bersedih seperti ini. Bersabarlah atas urusan dunia. Jadikanlah pandanganmu ke langit lebih panjang dari pandanganmu ke bumi dan kau pun akan mendapat apa yang kau inginkan. Tersenyumlah, karena rezekimu telah dibagi dan urusan hidupmu telah diatur. Urusan dunia tidak layak untuk membuatmu bersedih semacam ini karena semuanya ada di tangan Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur.”

Kemudian Imam Ali bin Abi Tholib meneruskan ungkapannya,

“Seorang mukmin hidup dalam dua hal, yaitu kesulitan dan kemudahan. Keduanya adalah nikmat jika ia sadari. Dibalik kemudahan ada rasa syukur. 

Sementara Allah berfirman, 

وَسَيَجْزِي اللّهُ الشَّاكِرِينَ -١٤٤

 'Allah akan Memberi balasan kepada orang yang bersyukur.' (QS.Ali Imran: 144)
Dan dibalik kesulitan ada kesabaran. Allah berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ -١٠- 

'Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.' (QS.Az-Zumar: 10)

Bagi seorang mukmin, kesulitan dan kemudahan adalah ladang untuk menabung pahala dan hadiah dari Allah swt. Lalu kenapa masih bersedih?

kita juga punya Allah kita bisa setiap saat mengadukan masalah kita kapada Allah,Nah yang paling tepat tuh coba deh setelah sholat nah kita minta tuh sama Allah,sampe nagis nangis gapapa kok kawan.lebih baik kita curhat sama Allah, ya kaaaa?

Tuh, Sob, ditanyain, kenapa kita masih bersedih kalau kita sudah tahu solusi dari semua masalah yang kita alami?

Just turn to Allah, and everything’s gonna be alright.  

Mau tahu jalan tercepat menuju surga ?

http://sbi-yosh.blogspot.co.id/

Sbi_yosh.com.Sobat yosh, karena macet sudah jadi hal biasa di beberapa kota di Indonesia,apalagi di jakarta dan surabaya dua kota ini langganan macet terutama pada jam-jam berangkat dan pulang kerja biar perjalanan tetap lancar, pasti kita cari jalan alternatif yang lebih cepat ke tempat tujuan. Bener nggak?

Nah, kali ini admin kasih tahu jalan tercepat untuk sampai ke tujuan setiap mukmin, surga! Biar makin semangat beramal dan mengarungi kehidupan ini. Pasti pada mupeng kan?

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Yep, jalan paling singkat dan mudah menuju surga adalah dengan ilmu!

Ibnu Rajab menyimpulkan bahwa menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami' Al 'Ulum wa Al Hikam, 2: 297-298).

Kok bisa sih ilmu menjadi jalan paling cepat menuju surga, Nid?

Alasannya karena dengan ilmu kita bisa lebih mengenal Allah. Ilmu bisa mendekatkan kita pada Allah swt.

Seharusnya nih, Sob, orang yang menuntut ilmu, mengetahui kekuasaan-kekuasaan Allah, pasti takjub, tunduk, dan makin beriman.

Tahu gimana penciptaan manusia, penciptaan alam semesta, teknologi yang semakin canggih, dan lain-lain, pasti kita ngerasa kecil deh, manusia nggak ada apa-apanya dan nggak pantas buat sombong. Makanya, sayang banget, ilmuwan yang makin pintar, eh, malah menentang kekuasaan Allah swt.

Cari ilmu aja udah suatu kebaikan loh dan bisa membawa kita ke kebaikan-kebaikan lainnya.

Karena makin banyak ilmu, makin banyak tahu soal perintah-perintah Allah swt, dan makin banyak peluang amalan yang bisa kita lakukan.

Sebagaimana kata ulama, "Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya."

Melakukan kebaikan dengan rajin menuntut ilmu, balasannya adalah banyak melakukan amalan-amalan untuk menambah pahala.

So, nggak malas lagi buat menuntut ilmu kan, kawan?

Sabar-sabarin aja kalau ngerasa banyak cobaan dalam menuntut ilmu. Karena balasannya juga nggak kecil loh.

Luruskan niat juga dalam menuntut ilmu. Belajar bertahun-tahun jangan cuma ngejar gelar or nilai, tapi iman nggak nambah. Sayang banget!

Makin pintar, makin panjang gelar, kan cakep juga kalau makin sholeh-sholehah.

Semangat terus menuntut ilmu ya, kawan!