Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, May 2, 2016

liku liku laki laki tak laku laku

http://sbi-yosh.blogspot.co.id/




Penulis: Nurul Badriah



Sbi_yosh.com.Di gazebo kampus Universitas Lika-Liku Kehidupan (disingkat Unilik), seorang laki-laki duduk termenung.  Salah satu kakinya ia tekukkan dan dengan alas kedua punggung tangannya ia meletakan dagu di atas lututnya. Garis wajahnya tampak begitu letih. Wajahnya pun tampak lebih tua dibandingkan mahasiswa kebanyakan. Maklum, tahun ini adalah tahun keenam ia berada di kampus Unilik. Semua teman angkatannya sudah lulus, bahkan ada yang sudah punya  4 anak. Ia masih punya jatah satu tahun di kampus yang sangat ia cintai itu. Namun, jika menurut kehendaknya, ia tak ingin meninggalkan kampus yang penuh kenangan indah itu.

“Bang Rio, lagi ngapain? Ye, lagi ngelamun apaan, tuch?” Wiwin, adik tingkat di program studinya membuyarkan lamunan laki-laki itu.

“Eh, adek. Lagi ngelamunin adek.”

“Mulai dech. Wiwin tuh ga suka digombalin, tau, gak?”

“Meskipun Wiwin gak suka, Wiwin tetap jadi inspirasi Abang.”

“Halah, Abang tuh gak berhenti-berhenti gombalnya, tapi  gak dapet-dapet pacar.”

“Eits, gini-gini Abang gak mau pacaran. Abang mau ta’aruf aja sama ukhti-ukhti yang pake jilbab lebar itu.”

“Jiaah, parah. Gimana mau ta’aruf sama ukhti-ukhti, Abang  aja gak jadi akhi-akhi.”

“Wiwin lari saja sana. Abang lagi mau sendiri.”

“Iihhh, bener-bener lagi galau kayaknya, nih?”

“GALAU = God Always Listening Always Understanding.”

“Eh, tumben Abang beres. Apa udah mau jadi akhi-akhi, ya?”

“Pergi ga luuu!”

“Takuuuuut, Bang Rio udah mau ngeluarin taringnya.” Wiwin melet ke arah Rio dan berlari menuju mushala yang tak jauh dari gazebo.

Rio cuek saja. Anak kecil, pikirnya. Tapi, sejenak ia tercenung dengan kata-kata Wiwin. Mungkin Wiwin benar juga. Ia harus berubah. Tapi, apa tidak terlambat? Ia sudah mahasiswa semester banyak. Ia menghela nafas panjang.

“Bang Rio, ngapain sendirian di situ?” Kini Teti, anak program studi Sejarah menyapanya.

“Lagi istirahat, Ti, abis jalan jauh tadi, sesat pula.”

“Emang jalan ke mana, Bang? Kok bisa sesat?”

“Jalan ke hatimu.”

“Yaelah, lurus aja Bang kalo jalan ke hati Teti.”

“Iya, tapi tadi tuh banyak candi-candi, terus banyak manusia purba juga, jadi sulit nemuin hati Teti.”

“Wah, bau-baunya gak enak, nih, ujungnya kalo udah ngomong gitu. Teti duluan aja dech, Bang. Daaa....” Potong Teti. Kali ini, ia tak perlu mengusir seperti Wiwin. Teti sudah lari duluan.

Sepertinya belum lama Rio duduk di gazebo ini. Sudah ada penggangu-pengganggu yang membuat kepalanya puyeng. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis mungil berjilbab biru muda menuju mushola. Sepertinya ia memang harus segera lari dari tempat ini. Gadis itu pasti akan lebih mengacaukan harinya.

***

“Sarah, kamu suka ke taman, ya?”

“Kok tahu, Bang?”

“Karena kamu udah bikin hati Abang berbunga-bunga.”

“Wah, Abang ada-ada aja, Sarah jadi malu.”

“Eh, Sarah. Kok hati Abang begetar, ya?”

“Karena deket Sarah, kali, Bang?”

“Eh, gak ding, ternyata HP Abang yang bergetar.”

“Hahaha… Abang bikin suasana ancur aja. Udah bagus-bagus dialognya. Masak ujungnya gitu?” Sarah, gadis mungil itu tertawa lepas mendengar akhir dialognya dengan Rio. Rio memang pasangan gombal yang pas untuknya.

“Abang udah mau ke jurusan, Sar, mau nemui Bu Yati. Mau bimbingan.”

“Bimbingan apa, Bang? Skripsi?”

“Bukan, bimbingan biar dapet hatimu.”

“Jiaah...!”

“Abang pegi dulu, ya?”

“Hati-hati, Abang.”

Di jurusan Budaya dan Seni, Program Studi Seni Lukis. Rio duduk berhadapan dengan Bu Yati. Dosen pembimbing skripsinya.

“Rio, kamu mau sampai kapan bertahan di kampus ini?”

“Sampai hati ibu luluh.”

“Ckckck, apa-apaan kamu, Yo? Kamu ini, ibu dapet laporan. Kamu sering ngegombalin adik-adik tingkat kamu, ya?”

“Galau, Bu. Skripsi ga, kelar-kelar, istri gak dapet-dapet, ibu gak acc-acc Bab I saya, hati ibu gak luluh-luluh liat wajah saya,”

“Masya Allah, baru kali ini, Nak, ibu dapet mahasiswa bimbingan yang rada-rada aneh.”

“Bukan aneh, Bu, tapi unik.”

“Ya, terserah kamu lah. Pokoknya besok apa yang ibu coret hari ini sudah diperbaiki. Ibu kebetulan besok ada di kampus.”

“Cepet banget, Bu?”

“Kamu ini, kemarin-kemarin udah dikasih kesempatan utnuk nyantai, sekarang gak ada lagi kesempatan untuk nyantai.”

“Iya, ampun, Bu, besok saya ngadep lagi.”

“Ibu tunggu besok di sini.” Tegas Bu Yati, dosen pembimbing Rio yang super duper sabar itu.

***

Rio keluar ruang dosen dengan wajah sumringah. Bagaimana tidak, Bu Yati akhirnya meng-acc Bab I skripsinya! Dunia rasanya dipenuhi bunga-bunga, mawar, melati, semuanya indah. Loh?! Kemudian ia layaknya aktor India yang bernyanyi serta menari di tengah-tengah taman, memutari tiang listrik, dan hujan-hujanan. Ups! Kali ini kok benar-benar basah?

“Eh, sialan lo, Ko! Mengacaukan suasana hati gue aja!” Umpat Rio yang mendapati Koko, teman yang senasib dengannya itu menyemprotnya dengan air minum mineral.

“Hahaha... lo juga sich, jalan sambil senyum-senyum sendiri, gue kira lo kesambet tadi.”

“Enak aja, lo, gini-gini gue rajin sholat, rajin ngaji, rajin...”

“Bohong lu! Terus apa hubungannya?” Potong Koko.

“Pacaran!” Rio ngedumel dan meninggalkan Koko kebingungan sambil garuk-garuk dada.

Rio melangkahkan kaki menuju gazebo depan mushala. Sejak gazebo ini dibangun, ia merasa jiwanya telah tertaut di sini. Sudah banyak banget cerita tentang lika liku hidupnya di kampus Unilik yang ia tumpahkan di sini. -ukan mencoret-coret. Bukan, tapi ia hanya ngomong dengan tiang gazebo!!! Hari ini ia mau ngomong, bab I udah di acc bu Yati!!! Yeaaah… setelah sekian semester akhirnya ia melewati tantangan di bab I. 

***

Wisuda ke 109 Unilik akan dilaksanakan dua bulan lagi. Tapi, ia baru berada di bab III, itu pun sudah bolak-balik ruang dosen 3 kali sehari untuk bimbingan tapi masih belum di-acc.

“Kamu ke perpustakaan pusat, cari skripsi yang mirip-mirip sama punya kamu.” Bu Yati mengakhiri bimbingan ke-tiganya hari ini.

“Iya, Bu.” 

Tanpa ba-bi-bu, Rio menuju perpustakaan pusat. Menaiki anak tangga sambil menghitungnya itu sesuatu, ya? Rio tiba-tiba merasa hebat sebab ia sudah tahu jumlah anak tangga perpustakaan pusat. Totalnyaaa... ada 10 anak tangga, saudara-saudari! Di anak tangga terakhir, Rio meloncat dan teriak memasuki pintu perpustakaan sambil mengangkat tangan kanan yang ia kepalkan. “Yeaaaaaah!!!”

Taraaa… kok perpustakaan pusat ada anak-anak yang lagi melingkar? Salah satu di antaranya ada yang menulis di papan tulis. Isinya:

Rapat DPM KM Unilik

Wadaaaaw... Rio salah masuk ruangan, saudara-saudari! Ia malah masuk sekret Dewan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Unilik yang berada tepat di belakang perpustakaan pusat! Apa yang terjadi dengan Rio? Semua mata tertuju padanya dan rapat pun terhenti. Rio mematung dengan satu tangan masih di atas persis patung Liberty.

“Maaf, ada apa, Mas?” Tanya seorang mahasiswa yang tadi menulis di papan tulis. “Ada yang bisa kami bantu?”

Rio menurunkan tangannya pelan-pelan, “Saya, saya mau numpang lewat.” Jawab Rio asal. “Ya, saya mau numpang lewat, saya mau ke perpustakaan pusat, lewat sini bisa?”

“Owh, iya bisa, Mas. Cuma pintunya lebih sering ditutup karena ruangan ini sekret kami. Kenapa gak lewat pintu depan aja, Mas?”

“Gka ada sensasinya, lewat sini lebih oke kayaknya.” Rio asal-asalan.

“Owh, silahkan, Mas. Den, buka pintu samping, mas ini mau lewat.” Perintahnya dengan salah satu di antara mereka yang berada di dekat pintu.

“Permisi, permisi...” Rio membungkuk lewat sambil menenteng sepatu tanpa berdosa di depan orang-orang yang sedang rapat.

Haha... Rio baru tahu, tangga belakang perpustakaan pusat ternyata bukan untuk pintu masuk perpus, melainkan sekretariat salah satu ormawa di kampusnya. Tanpa dosa, ia melenggang menuju ruangan di perpus. Wadawww... ini perpustakaan apa labirin? Ia bahkan tak tahu harus ke kanan atau ke kiri. Terpenting bukan ke depan, soalnya itu pintu keluar.

Dengan insting yang dirasa jitu, akhirnya ia memilih jalur kiri. Jalan entah berapa meter, ia menaiki tangga, dan disana ia menemukan ruangan yang ada bukunya. Dengan percaya diri tingkat tinggi, ia masuk ruangan dan duduk manis depan seorang cewek manis.

Baru lima menit, ia merasakan keanehan, saudara-saudari! Ia tak menemukan skripsi bahkan buku-buku pun tak ada. Hanya sekumpulan tulisan dan sejenis majalah di ruangan ini.

“Mbak, mbak, mau tanya.” Rio memberanikan diri mengajak cewek di depannya bicara.

“Iya, ada apa?”

“Mbak, kalau mau lihat skripsi di mana ya?”

“Owh, ruangan skripsi? Dari pintu masuk Mas ke kiri, terus belok kanan, lurus aja, kemudian belok kiri lagi. Nah, di situ ruangan skripsi.” Busyet! Ini benar-benar labirin. “Bukan mahasiswa sini ya, Mas?” 

“Eh, iya... eh, bukan,” Rio gelagapan. Ketahuan ia belum pernah ke perpustakaan pusat. “Makasih, Mbak.” Hancur dah reputasinya di depan cewek manis tadi. Padahal dalam hatinya tadi pengen kenalan, siapa tahu beruntung tuh cewek jatuh hati sama dia. Eh, mimpinya Rio di siang bolong, diaminin aja. Kasihan enam tahun di kampus, gak ada cewek yang nyantol. Bukan karena gak ganteng, sih, tapi emang kurang cakep! 

Setelah keliling-keliling, akhirnya ia menemukan ruangan skripsi tersembunyi si sudut paling kiri perpustakaan. Lokasi yang membuatnya ngedumel dalam hati. Setengah jam di ruangan itu, dengan mudah rasa bosan menyergapnya. Berkali-kali mulutnya menganga. Bahkan, ia sempat tertidur di antara rak-rak itu dan terbangun karena tepat di depannya sebuah skripsi jatuh.

Rio kembali, ia menyudahi petualangannya di perpustakaan pusat. Ia menyimpulkan bahwa pekerjaan mencari referensi itu membosankan. Titik. Gak pake koma-koma lagi.

***

Bimbingan kali ini, Bu Yati dengan baik hatinya membelikan empek-empek dari kantin kampus. Eh... tumben-tumbenan, pikir Rio. Yah, mudah-mudahan pertanda baiklah buat Rio.

“Biar kamu semangat bimbingan. Mungkin ibu gak ngasih makan selama ini jadi kamu sedikit lamban.” Ujar Bu yati. Rio mesem-mesem aja.

“Ah, ibu tau aja...”

“Nah, kan, nyambarnya cepat  kalo bimbingan dikasih makan!”

“Ibu juga baru ngasih tau sekarang, kalau dari dulu pasti tiap bimbingan saya sms ibu dulu mau pilih makan apa?”

“Alhamdulillah, artinya ibu gak perlu ngeluarin banyak biaya untuk membimbing kamu lagi.”

“Loh, kok?”

“Iya, ini bab terakhir, kan? Kalau ibu acc, selesai skripsimu, tinggal sidang dan bla bla bla…” Dubraakk.. Ibu ini masih perhitungan aja, gerutu Rio dalam hati.

Pempek lenjer, kapal selam, adaan, dan semua jenis pempek terhidang di meja. Sesekali Rio melirik pempek-pempek yang menggoda tangannya untuk meraihnya. Tapi, seolah Bu Yati membaca pikirannya, setiap kali matanya melirik pempek-pempek itu, Bu Yati akan berceloteh, “Fokus, fokus...”

“Oke, final. Kamu sudah boleh sidang. Bab terakhir kamu saya acc.”

“Yeaahhh…!“ Rio kegirangan, tanpa sadar tangannya menyenggol cuka pempek dan tumpah ruah ke kertas-kertas di atas meja. Sepiring pempek pun tak ayal jadi korban ketika tangannya hendak menyelamatkan sang cuka.

Praaakkkk…

Pempek berserakan di lantai. Cuka bergenangan di meja. Kertas-kertas entah berkas apa berubah warna menjadi kecoklatan. Sedetik kemudian Rio dan Bu Yati terdiam.

“Rioooooooo……!!!” Bu Yati akhirnya histeris dan tanpa sadar tangannya menjewer telinga Rio.

“Maaf, maaf, Bbu.. gak sengaja, Bu,” Rio meringis.

Rio menelan ludah, hilang sudah harapannya makan pempek hari ini. Ia mesti rela membersihkan bekas cuka dan pempek yang berserakan di lantai.

“Bang Rio sekarang udah kerja di sini, ya?” Seorang mahasiswi dengan polosnya bertanya ketika melihat Rio membersihkan lantai ruang dosen.

“Sembarangan! Lo kira gue OB, heh??? Gue lempar sama pempek ini, mau?”

“Eh, bang Rio kok mendadak galak, mau dibantuin, Bang?”

“Wah, kalo itu boleh dech, nih gantiin abang beresin lantai.”

“Gak, maksudnya bantuin doa, Bang.”

“Pergi gak loooooo!”

“Haha.. selamat bekerja, bang Rio...!”

Hari ini memang melelahkan. Setelah semalaman begadang menyelesaikan skripsi, paginya bimbingan dan ditutup bersih-bersih ruang dosen plus bonus disemprot Bu Yati karena berkas-berkasnya turut terkena tumpahan cuka pempek.

***

Gue cuma pengen wisuda dengan bahagia...

Tulis Rio di status Facebook-nya. Dalam hitungan menit saja komentar demi komentar muncul.

Ema Lisnawati Anak Bunda Emang: sekarang gak bahagia, Bang? Kan udah sidang?

Giovanni The Rummi: Emang lu bisa bahagia juga, Yo?

Aristiawan: Udah kagak usah pikirin yang gak ngebahagiain, enjoy aje, boy!

Winda Cuakep: Tumben bang ngegalau? :D

Es Cendol Tanto: Itu derita Lu Yo, menderita mulu! Xixixi.

Beragam komentar muncul dan Rio enggan menanggapi. Dia pun merasa geli sendiri dengan statusnya. Ini kali pertama ia bikin status yang sedikit galau. Tapi, pada akhirnya ia menanggapi obrolan panjang teman-teman Facebook-nya dengan komentar singkat: Gue lagi nyari pendamping wisuda plus pendamping hidup, boy, capek ngejomblo melulu. :D

***

Sore itu, seminggu menjelang wisuda. Rio duduk di gazebo depan mushala, melepas lelah setelah mondar-mandir mengurus semua urusan untuk wisuda.

“Bang Rioooo... selamat yaaa! Traktirannya kapan?” Sarah menghampirinya dengan sumringah dan senyum lebar dua centi kanan, dua centi kiri.

“Makan mulu, lu! Gemuk dikit ngeluh terus nangis-nangis pengen diet.”

“Hahaha... gak gitu juga kali, Bang.. Btw ngapain abang di sini?”

“Gak ngapa-ngapain, istirahat aja abis muter-muter.”

“Muter-muter hati Sarah ya, Bang?”

“Gak. Muter-muter gerobak bakso! Ganggu aja nih anak. Pergi sana!”

“Eh, abang lagi merhatiin ukhti-ukhti yang di mushala itu ya? Cieee, bang Rio, cieee...”

“Kepo lu!”

“Ngaku aja, Bang. Cieee…”

“Pregi, lu, gerah gue!”

“Bang, kalo suka sama ukhti-ukhti, abang mesti jadi akhi-akhi dulu. Gimana si ukhti mau sama abang, abang aja kayak gini? Lihat tuh penampilan abang, acak-acakan gitu. Jangan-jangan gak mandi dua hari lagi?”

“Sembaranga,n lu. Gini-gini gue mandi tiga kali sehari!”

“Bohong! Dosa lho, Bang! Nambah si ukhti gak mau.”

“Udahan, pergi sana, lu.”

“Hahaha... Bang, laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik, begitu pula sebaliknya.” Sarah beranjak dan meninggalkan Rio tercenung di gazebo. Mungkin ada benarnya perkataan Sarah, bisa jadi karena itu juga ia tak laku-laku padahal ia selalu bermimpi mendapatkan pendamping hidup seorang muslimah yang baik. Atau karena jauh dari Allah juga skripsinya sekian semester tak laku-laku alias tak di-acc-acc oleh dosen pembimbingnya, pikir Rio.

***

Rio mengambil sajadah di lemarinya. Entah berapa lama sajadah ini tak ia pakai. Sehelai sarung dan kopiah pemberian ibunya pun telah lama sekali tak ia gunakan. Senja ini, jelang Maghrib, ia mengguyuri tubuhnya dengan air dan berwudhu.

Azan Maghrib berkumandang dan Rio melangkahkan kaki menuju masjid yang tak begitu jauh dari kostannya. Dengan senyum sumringah, ia masuk ke masjid tanpa menghiraukan teriakan seorang laki-laki di belakangnya. Ia masuk pintu masjid dan langkahnya terhenti.“Kok isinya cewek semua?” 

“Maaf, Mas, pintu cowoknya di sana. Mari...” Dari belakang suara seorang laki-laki mengejutkannya. Ia melangkah, masih ia dengar cekikikan dari belakang. Mungkin Allah menghukumku atas kelalaianku selama ini, bisa jadi ini belum seberapa, pikir Rio.

Hari ini sujud pertamanya setelah sekian sujud ia tinggalkan. Sebuah janji ia ikrarkan kepada dirinya sendiri, ia akan menjadi muslim yang lebih taat lagi.

Saturday, April 30, 2016

Ketika tampan bukan menjadi pilihan

http://sbi-yosh.blogspot.co.id/

Sbi_yosh.com.
HIDUP adalah sebuah pilihan. Entitas semesta yang menghadapkan manusia pada berbagai macam problema, lanjut mencernanya. Kemudian mengharuskan mereka untuk memilah dan mengambil sebuah keputusan. Pun diriku. Butuh waktu lama untuk mengerti makna sebuah pilihan. Hingga usiaku beranjak dua puluh dua tahun kini, tak pernah benar mengerti semua itu.

Faktanya, keputusan tak bisa diperoleh dengan amarah meninggi dan perasaan yang tengah diliputi kekecewaan. Kenapa begini? Karena aku adalah korban daripada pilihan. Hak veto-ku dicabut sejak kecil. Sebagai anak perempuan satu-satunya dari sorang pemuka agama. Aku kehilangan kebebasan mengemukakan pendapat dan uneg-uneg. Walhasil, inilah aku sekarang. Seorang gadis pendiam, penyendiri, kesepian dan tak punya teman. Aku tumbuh menjadi boneka cantik dan manis. Seluruh diri ini murni jiplakan. Hasil daur ulang antara keterpaksaan dan kekecewaan. Aku menelan ludah. Disibukkan kembali dengan pisau dan sayuran di tangan. Air mata mulai jatuh satu persatu meninggalkan isak yang tertahan pada kerongkongan.

“Nur, kamu kenapa?”

Ummi menatapku sekilas kemudian kembali sibuk menggoreng tempe. Aku menggeleng kecil seraya menyeka sisa lelehan air mata.

“Tidak apa-apa, Mi. Mengiris bawang kok bisa perih pada mata ya, Mi?” elakku. Kebohongan nyata sebagai pelarian dari kejujuran tersamarkan. Nyatanya, tak ada bawang di tangan ini selain kol yang semakin remuk kupotong.

“Nur, mau sampai kapan kamu memotong kolnya? Itu bukan lagi memotong, tapi mencacah,” protes Ummi. Aku terkesiap melihat hasil kerja tangan ini.

“Kamu ada apa sih sebenarnya, Nur?” lanjut Ummi.

Aku bungkam selama beberapa saat. Memikirkan dan menyusun kata yang bisa kuucapkan. Mungkin ini alasan keputusanku yang tak begitu dianggap. Terlalu lama memikirkan kata membuat oranglain bosan padaku.

“Ummi, kalau seandainya perjodohannya dibatalin aja gimana? Masih satu bulan lagi kok. Masih belum terlambat untuk membatalkannya,” saranku sedikit hati-hati. Ummi memadamkan kompor lalu menatap tajam ke arahku.

“Kamu gak bisa seenaknya gini donk, Nur. Kemarin kan kamu yang bilang setuju dengan perjodohan ini. Bahkan kamu ingin mempercepat tanggal pernikahan agar kamu bisa segera ke Arab kan? Kenapa sekarang malah kayak gini?” protes Ummi. Aku menelan ludah getir.

“Itu kan kemarin, Mi. Kemarin kan anak gadismu ini sedang patah hati gegara diputusin Brad Pitt. Mana sempat mikir dengan jernih,” belaku, yang tentu saja cuma pembelaan dalam hati.

“Sekarang kamu mau ngomong apa lagi? Calon mertua dan suamimu sedang di perjalanan menuju rumah ini. Apa lagi pembelaanmu hmm?” lanjutnya yang berhasil menohok ulu hati ini.

“Kalau Nur bisa menemukan pria lain yang Nur cintai, boleh kan pertunangannya dibatalin aja?” jawabku penuh kehati-hatian.

“Kamu pikir ini sedang turnamen ya? Memangnya kamu bisa menemukan pria itu dalam waktu kurang dari sebulan? Gak usah mikir yang aneh-aneh. Jalani aja semua ini dengan baik!” elak Ummi mengakhiri obrolan. Mengambil alih potongan sayur di tanganku lalu mulai memasaknya. Aku beranjak pergi dengan perasaan mangkel luar biasa. Dengan cekatan tangan ini menarik jilbab yang tergantung kemudian alat sholat dan kitab. Beranjak pergi menuju Ponpes tempatku menimba ilmu dan mengamalkannya.

“Mau ke mana, Nur? Masaknya kan belum selesai?” komentar Ummi.

“Nur janji sama anak-anak pondok mau ngajarin Imriti bab ke tiga, Mi. Maaf, Nur ke mejid lebih awal,” jawabku meraih tangan Ummi lalu menciumnya. Ummi hanya ber-oh kecil dan membiarkan diri ini berlalu.

Ruangan sebesar empat kali dua ini dulu menjadi tempat peristirahatanku di pondok. Sekarang ini sudah berubah menjadi tempat penyimpanan kitab. Di sinilah aku menghabiskan waktu untuk menyendiri. Ya, mengajar anak-anak pondok hanya alasan agar terhindar dari pertanyaan Ummi. Aku berbohong? Tidak juga. Karena waktu untuk mengajar mereka masih satu jam-an lagi. Sebelum tiba waktunya, aku bisa menghabiskan waktu bercinta dengan kalamullah dan mengadu pada-Nya. Kehampaan menyeruak dalam kalbu. Betapa selama ini aku terlupa pada Sang khaliq. Hanya datang ketika diri ini berlumur harap dan noda. Menyapa sekilas lalu berbalik pergi. Rutinitas mengajar anak-anak pondok hanya sebatas kewajiban. Tak ada alasan lain untuk menjiwainya hingga ke sumsung tulang. Aku menangis meratapi diri. Betapa kecilnya rasa syukur ini. Hingga malam menurunkan tirai pekat. Diri ini masih asyik bertadabur dalam kalamNya. Panggilan kewajiban mengajar anak-anak pondok menghentikan renungan. Ba’da isya, panggilan Kakak ipar memotong pengajian.

“Nur, kamu disuruh pulang. Calon mertuamu sudah tiba,” ujarnya.



“Ada apa Teh, Nur kan masih ngaji?” protesku.

“Badal sama yang lain aja. Teteh udah bilang sama Pak Ustadz kok, beliau juga sudah mengizinkan,” komentarnya.

Aku merengut, sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan Kakak ipar. Bayangan ini melayang entah ke mana. Tertahan pada satu titik hitam dan gelap di atas padang tandus. Aku terjebak di antara sepi yang menyiksa diri.

“Nur, kok malah bengong sih? Ayo cepetan! Mereka sudah nunggu dari tadi lho,” lanjut Kakakku, menarik paksa alam bawah sadar ini menuju nyata. Setengah terpaksa, kuikuti langkah kakinya setelah mengantongi izin dari guru besar. Selang lima menit, kami pun sampai di pelataran rumah.

“Cadarnya dibuka aja, Nur. Gak apa-apa kok,” saran Kakak ipar. Aku menggeleng kecil.

“Teteh duluan masuk aja. Nur masuk jalan dapur. Nanti nunggu di ruang tengah,” jawabku seraya berlalu sebelum mendengar penolakannya.

Keringat dingin bermunculan. Sayup kudengar obrolan mereka. Menerka seperti apa kiranya calon suami dan mertuaku. Tak ada keberanian sedikitpun untuk mendekat sebelum mereka memanggil. Dan panggilan itu pun akhirnya datang. Kakak ipar menghampiri lalu mengajakku menemui mereka. Pandangan ini menunduk dalam. Hati gemuruh tak menentu. Selama beberapa saat diri ini bagai manekin di balik etalase perak. Menjadi sosok yang dipuji dan dikagumi. Hal ini tak membuat hati ini melambung, justru sebaliknya. Semakin dipuji, semakin membuatku ketakutan. Kemudian satu persatu dari dua keluarga ini pun berlalu meninggalkan diriku bersama Ahmeed Alkaff, calon suamiku.

“Inti Noor Ainy Siddiqui? Masya allah, inti jamilah jiddan,” ujarnya membuka percakapan.

Ia banyak berbicara menggunakan bahasa arab. Sementara aku semakin bungkam. Bukan karena tak mengerti yang ia ucapkan, tapi lebih menjaga diri.

“Leisy askut, Ya Khumaira? Inti la tatakallam ilalughotil arabiyyah? Kenapa diam saja? Kamu tidak bicara dalam bahasa arab?” tanyanya.

“Alafu minkum. La adry. I can’t speak arabian language,” jawabku sengaja menggunakan campuran bahasa.

Bukan untuk membuatnya tertarik denganku. Tapi, lebih agar dia mengetahui kekuranganku dalam berkomunikasi. Setahuku, orang Arab jarang menggunakan bahasa Inggris dan tak begitu menyukainya. Satu-satunya alasan bagi diri ini agar membuatnya menjauh dan memutuskan menolak perjodohan. Respon yang kuperoleh adalah sebaliknya. Ia tertawa renyah. Terkejut, refleks netra ini menatap wajahnya. Sungguh diluar dugaan. Ahmed bukan seperti pria dalam bayangan otak ini. Ia tak selalu berimamah dan berjubah seperti di film-film timur tengah. Justru ia mengenakan setelan kaos berbalut jacket modis anak muda. Manik hitamnya semakin tajam dan bercahaya saat tersenyum. Hidungnya bangir, alisnya hitam pekat seperti ulat bulu. Tulang rahang yang tegas dengan dagu membelah. Rambutnya sedikit ikal dan gelap dengan perawakan yang tinggi besar. Jika kau pernah melihat aktor India yang bernama Aditya roy kapoor, ya Ahmeed ibarat cerminannya. Seperti pinang dibelah dua. Aku bahkan meragu, apakah aku dijodohkan dengan seorang selebritis? Tapi aku menggeleng cepat. Itu takkan mengubah perasaan ini.

“Hey kenapa bengong?” lanjutnya menggunakan bahasa Indonesia. Logatnya masih kental Arab. Aku terkesiap.

“Anda bisa berbicara dalam bahasa Indonesia?” tanyaku tanpa sadar. Ia kembali tertawa renyah.

“Akhirnya kau mau bicara juga. Suaramu merdu,” jawabnya tak mengindahkan pertanyaan ini.

“Aku terkejut jika Anda bisa mengerti bahasa kami,” lanjutku cuek.

“Kau tak menanyakan apapun. Apa kau tak menyukai perjodohan ini?” jawabnya tersenyum. Aku kembali diam. Ucapannya benar-benar menohok hati ini.

“Apa kau keberatan jika aku memintamu membuka cadar? Dalam adat istiadat kami, seorang calon suami diperbolehkan melihat wajah calon isterinya,” lanjutnya.

Aku mengerti hal itu. Untuk itulah diriku dipanggil menemuinya secara berdua. Hal yang biasanya tak diizinkan kedua orangtuaku. Perlahan aku mulai membuka cadar yang menutupi wajah. Pandangan ini semakin menunduk dalam.

“Kau boleh mengangkat wajahmu,” sarannya yang lebih tepat seperti perintah untukku. Mengikuti keinginannya, aku mengangkat wajah ini menatapnya.

“Yassalam. Inti jamilah jidan. Sudah cukup, kau boleh memakai kembali cadarmu,” ujarnya.

Obrolannya semakin panjang mengajak diri ini berbincang. Tak banyak yang kukatakan selain kata iya, tidak, atau entahlah. Hanya sederet kata-kata singkat yang menjenuhkan. Ia bukannya jera dan bosan, tapi justru sebaliknya. Semakin bersemangat memperisteri diri ini. Beruntung kedua orangtua kami datang menghampiri lalu mengajaknya pamit undur diri. Keputusan sudah diperoleh mereka dari silaturrahmi ini. Bulan depan kami akan meresmikan pertunangan. Lututku lemas seketika. Sepeninggal mereka, air mata tiada henti mengalir dari kelopak ini. Ahmeed memang sangat rupawan. Tapi hal ini tak cukup membuat hatiku bergetar hebat. Kenyamanan lebih menjadi prioritas utamaku. Dan hal itu masih belum kuperoleh dipertemuan pertama kami. Kembali, kenyataan hidup menampar wajahku. Pilihan macam apakah ini? Haruskah diri ini terjebak dalam lingkaran hidup yang sulit kupecahkan? Dan air mata terus mengalir sebagai jawaban.

kawan tersenyumlah...!

http://sbi-yosh.blogspot.co.id/

Sbi_yosh.com.
SENYUMLAH!

Kalau senyumpun tak bisa, mungkin harus belajar pada Westerling.
Kata seorang penyanyi lawas dalam lirik lagunya, Westerlingpun tersenyum

Kau tahu Westerling ?
Ia Jenderal Belanda yang membunuhi banyak orang di kampungku.
Lebih 40.000 jiwa katanya.

Tapi, kalo ingin tahu banyak tentangnya, searching saja di Google.
Semakin hari Google semakin berguna saja. Apalagi bagi yang malas baca dan malas mikir. Andalan nomer satu: googling.

Tapi sudahlah,
Toh ini tentang senyum bukan tentang Google.

Senyum saja!
Senyummu paling orisinil kata seorang temanku. Kau mirip seorang aktor: si Fauzi Badillah, tambahnya lagi.
Nampaknya kali ini ia terlalu memuji. Mungkin.

Sebab, senyum Fauzi Badillah tak sebagus senyummu. Kamu tenang saja.
Tapi, kerennya Fauzi Badillah ia salah seorang artis pendukung gerakan Indonesia tanpa JIL loh!
That’s cool!



Kamu juga kan? Mana asyik negeri ini ada JIL.
Aku heran saja sama orang-orang JIL itu,
Otaknya melesap kemana yah?
Eh, kok malah bahas JIL yang menyebalkan itu?

Baik, kita balik ke senyum!
Atau si teman itu jatuh cinta padamu. Tapi, dia kan lelaki, kamu lelaki.
Apa iya, lelaki suka lelaki?

Hmm…. kita sedang tak bicara cinta sejenis. Dan, aku sedang malas membahas cinta yang ‘sakit’ itu.

Fine, mari kita serius!
Barangkali, suatu masa nanti saya bisa betah melihat senyummu.
Itu jika kau ditakdirkan menggenapkan dienku. Bukan, karena senyumu seperti senyum Monalisa.

Aku tak suka Monalisa. Sebab, aku seorang wanita, sama seperti Monalisa.
Rumus saling suka sederhana kok: beda kelamin, sama agama. Jangan dibalik!

Sudahlah, senyum saja!
Itu sudah cukup.
Tak muluk kan..?
Yah, dengan senyummu, kau lebih indah dari siapapun di planet ini.